Atika binti Zaid Istri Para Syuhada

foto‘Atikah binti Zaid ibn ‘Amru ibn Nufail al Qurasyiah al ‘Adawiyah. Beliau merupakan seorang wanita mukminah yang cukup terkenal di kalangan sahabiyah dengan kefasihannya serta kemampuannya bersyair . Sifat-sifat ini telah diwarisinya dari ayahanda sendiri.

Keluarga ‘Atikah binti Zaid

‘Atikah binti Zaid adalah seorang sahabat wanita mulia yang memiliki sekian banyak kemuliaan dan keistimewaan. Ia adalah saudara kandung dari Sa’id bin Zaid ra, salah seorang dari 10 sahabat yang dijamin masuk surga. Ibunya adalah Ummu Kuraiz binti Al Hadhrami. Ayahnya bernama Zaid bin ‘Amr bin Nufail, seorang yang memiliki kepribadian sangat unik dan hebat di zamannya.

Ketika semua orang di sekelilingnya terjerumus dalam ritual menyembah berhala, Zaid bin ‘Amr bin Nufail termasuk salah seorang yang telah bertauhid. Sepanjang hidupnya, Zaid bin ‘Amr selalu berusaha menggagalkan pembunuhan terhadap anak perempuan (yang dilakukan dengan cara menguburnya hidup-hidup).

Setiap kali mengetahui ada yang akan membunuh anak perempuannya, ia berkata, “Hentikan! Jangan bunuh dia. Biarlah aku yang membesarkannya.” Setelah anak perempuan itu tumbuh dan cukup dewasa, ia berkata, “Jika engkau mau, aku akan menyerahkan kembali anakku ini kepadamu. Tapi jika tidak, biarlah aku tetap mengasuhnya.”

Pernikahan

Menikah dengan Abdullah bin Abu Bakar Ash-Shiddiq

‘Atikah termasuk wanita-wanita yang hijrah. Abdullah bin Abu Bakar Ash-Shiddiq menikahinya. Ia adalah seorang yang berparas cantik jelita sehingga Abdullah sangat mencintainya dan membuatnya agak bermalas-malasan untuk terjun di medan perang. Melihat hal ini, ayah Abdullah, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu menyuruhnya agar menceraikan istrinya.

Dengan terpaksa, Abdullah menceraikannya juga. Tapi, ia tidak dapat menutupi kerinduan dan kecintaannya. Kondisinya yang memburuk membuat Abu Bakar Ash-Shiddiq ra merasa iba, sehingga mengijinkan putranya rujuk kembali dengan ‘Atikah.

Dalam perkembangan berikutnya, ketika pasukan muslim mengepung kota Tha’if, Abdullah terkena anak panah yang membuatnya terluka parah dan akhirnya meninggal di Madinah.  Setelah suaminya gugur sebagai syahid dan masa ‘iddahnya telah berakhir, Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu melamar dan menikahinya.

‘Atikah sangat mencintai Abdullah begitu juga sebaliknya sehingga Abdullah memberinya harta khusus dengan syarat ‘Atikah tidak akan menikah lagi, jika ia meninggal lebih dulu. Setelah Abdullah meninggal dunia, Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu mengutus seseorang kepada ‘Atikah untuk menyampaikan pesan, ‘Engkau telah mengharamkan sesuatu yang telah dihalalkan oleh Allah. Kembalikanlah harta yang telah engkau terima dari Abdullah kepada keluarganya.’ Atikah menuruti saran Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu lalu Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu pun menikahinya.

Dilamar Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu

Ketika Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu melamarnya, ‘Atikah menerima dengan syarat Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu tidak boleh memukulnya, tidak melarangnya melakukan perkara yang benar, dan tidak menghalanginya jika ingin shalat di Masjid Nabawi.

‘Atikah hidup bersama Al-Faruq yang sangat penyayang dan penuh pengertian, sehingga ia merasakan hari-hari yang sangat bahagia dalam hidupnya. Ia menjadi saksi karya-karya besar yang telah ditorehkan oleh suaminya dalam menegakkan agama Allah dan perhatiannya yang sangat tinggi terhadap kepentingan rakyat.

Selama mendampingi suaminya, ‘Atikah mempelajari sekian banyak hal darinya, hingga tiba suatu hari ia menyaksikan peristiwa terbunuhnya Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu sebagai seorang syahid, sebagaimana pernah diberitakan Rasulullah ﷺ kepadanya.

Setelah Umar bin Khaththab Meninggal

Setelah Umar bi Khaththab radhiallahu ‘anhu terbunuh sebagai syahid, ‘Atikah dipersunting oleh Hawari (pengawal setia) Rasulullah ﷺ dan salah seorang dari 10 sahabat yang dijamin akan masuk surga. Ia adalah Zubair bin Al-‘Awwam radhiallahu ‘anhu, seorang kesatria penunggang kuda yang sangat berani dan tidak pernah takut mati di medan apapun. Sejarah mencatat, ia tidak pernah absen dalam setiap perang yang dipimpin Rasulullah ﷺ.

‘Atikah sangat bahagia dapat hidup bersamanya yang selalu sarat dengan ketaatan kepada Allah. Ia tahu bahwa suami ketiganya inipun akan mati sebagai seorang syahid, karena Rasulullah ﷺ pernah memberitahu hal tersebut kepadanya semasa beliau masih hidup. Zubair bin Al-‘Awwam radhiallahu ‘anhu terbunuh di lembah as-Siba’ dekat kota Bashrah oleh Ibnu Jurmuz dalam Perang Jamal.

Di pernikahan terakhirnya, ia menikah dengan cucu Rasulullah, Husein, putra Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Ketika itu, usia Atikah menginjak kepala lima. Husein terpikat dengan budi pekerti Atikah yang luhur. Ketika Husein terbunuh, Atikah kembali menjanda hingga akhir hayatnya.

‘Atikah meninggal dunia pada awal masa pemerintahan Muawiyah bin Abu Sufyan ra, yaitu pada 41 Hijriah. Kesabarannya dan ketegarannya, bersuamikan para syahid, mendidik muslimah untuk senantiasa sabar dan berdiri di belakang mendukung suami. Semoga Allah meridhainya dan membuat dirinya ridha, serta menjadikan surga firdaus sebagai tempat persinggahan terakhir.

By: Ay/ sumber: 35 Sirah Shahabiyah, Mahmud Al Mishri, Penerbit Al I’tishom