Cinta Istri Para Syuhada’

muslimah“Akupun mengira, seandainya aku menikah dengan semua laki-laki yang ada di bumi ini, niscaya mereka akan terbunuh sebagai syuhada.” (Atikah binti ‘Amar)

Ketika cinta memanggilmu, maka datangilah ia meski jalan terjal berliku. Jika cinta memelukmu, maka dekaplah ia walau pedang-pedang terhunus siap menyambarmu. Sentuhlah cinta itu dengan tangan keabadian, karena cinta adalah satu-satunya rasa yang jika mendatangimu, maka engkau tak akan mampu membendung gelombangnya. Dan jika ia meninggalkanmu maka engkau tak pernah bisa memintanya untuk kembali.

Atikah binti ‘Amr bin Nufail, seorang wanita terhormat, taat beragama, termasuk salah satu wanita tercantik di kalangan masyarakat Quraisy. Datang kepadanya seorang laki-laki yang sangat tampan, terhormat, dari keluarga yang taat beragama juga. Namanya Abdurrahman, putera Abu Bakar ash-Shiddiq. Merekapun akhirnya menikah.

Setelah mereka hidup bersama mengarungi biduk rumah tangga, Abu Bakar melihat bahwa puteranya terlalu larut dalam cinta istrinya. Abdurrahman sangat mencintai Atikah, begitu juga dengan Atikah. Melihat hal itu, Abu Bakar mengkhawatirkan anaknya. Ia takut jika cinta yang berlebihan itu merusak agamanya.

Suatu hari Abu Bakar menemui puteranya di kamar.
“Wahai anakku, aku melihat sepertinya cintamu pada istrimu telah melemahkan logika berpikirmu, karena itu ceraikanlah istrimu!” kata Abu Bakar pada anaknya.

“Aku tak bisa melakukan itu, ayah!” jawab Abdurrahman sedih.

“Aku telah bersumpah atasmu untuk kamu ceraikan ia!” pinta Abu Bakar ash-Shiddiq.

Pemuda tampan itu bingung, di satu sisi hatinya sudah sangat mencintai istrinya dan sulit untuk berpisah dengannya, tapi di sisi lain ia tidak bisa membantah permintaan ayahnya. Abdurrahman memang sudah dikenal dengan anak yang sangat patuh pada orang tuanya, maka iapun memenuhi permintaan sang ayah untuk menceraikan istrinya.

Meski demikian, Abdurrahman tidak bisa mendustai hatinya yang sudah benar-benar cinta pada Atikah. Pasca perceraian, bayang-bayang Atikah tak mampu ia usir dari lamunannya. Ruang kosong di hatinya yang dulu diisi dengan cinta Atikah kini kembali kosong lagi. Kesedihan yang memuncak membuat putera sahabat dekat Rasulullah Saw itu meninggalkan makan dan minum. Lezatnya makanan dan segarnya minuman menjadi hambar untuk hati yang dirundung nestapa. Sampai-sampai ada orang yang berkata pada Abu Bakar: “Kamu telah menghancurkan anakmu!”

Suatu saat Abu Bakar melihat buah hatinya sedang berbaring di bawah terik matahari. Tatapan matanya kosong, pikirnya mengkhayal jauh, dan dari mulutnya keluar bait-bait syair yang menyuarakan jeritan jiwanya.

Demi Allah, aku tak akan melupakanmu, Atikah, selama mentari masih terbit
Dan selama burung merpati itu masih mendekur
Tak pernah kutemui orang bodoh sepertiku yang menceraikan wanita sepertinya
Dan tak pernah kutemui wanita sepertinya yang dicerai tanpa dosa
Akhlaknya terpuji, agamanya bagus
Perangainya lurus dalam menjaga malu dan bertutur kata

Tak kuasa Abu Bakar mendengar bait-bait syair anaknya. Hatinya luluh dan iapun segera menemui anaknya.

“Wahai anakku, rujuklah dengannya!” pinta ash-Shiddiq pada buah hatinya.

Abdurrahman pun rujuk dengan Atikah. Kini ruang kosong dalam hatinya kembali terisi dengan cinta wanita yang dicintainya. Bahtera rumah tangga merekapun kembali melaju siap untuk berlayar.

Pada tahun 8 H, setelah penaklukan kota Makkah, Rasulullah Saw keluar bersama pasukan Islam ke Thaif untuk memerangi orang-orang Hawazin dan Tsaqif yang melarikan diri saat perang Hunain ke sana. Abdurrahman ikut serta dalam pasukan itu. Ketika perang berkecamuk, dimana musuh bertahan di benteng yang kuat, sebuah anak panah mengenai tubuh Abdurrahman bin Abu Bakar ash-Shiddiq, sehingga ia gugur sebagai syuhada’.

Atikah sangat terpukul saat mendengar berita tentang syahidnya sang suami. Bait-bait syair yang keluar dari lisannya menggambarkan dengan jelas bagaimana perasaannya ketika itu.

Aku berjanji pada diriku untuk selamanya bersedih karena kehilanganmu
Dan selamanya akan kubiarkan debu-debu menempel di kulitku
Seumur hidup aku belum pernah mendapati seorang pemuda sepertinya
Seorang pemuda yang pemberani, tangguh dan penyabar
Jika perang telah dimulai maka ia akan menghajar musuh
Dan tidak meninggalkan perang sampai tombaknya berlumuran darah

Ketika Umar bin Khattab menjadi khalifah, ia menikahi Atikah binti ‘Amr. Walimah pun diadakan cukup meriah. Semua tamu menghadiri acara itu. Sejak saat itulah Atikah hidup menjalani biduk rumah tangganya yang baru bersama Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Hal itu berlangsung sampai akhirnya Umar bin Khattab meninggal sebagai syuhada’ lantaran tikaman belati Abu Lu’luah al-Majusi. Kabar kematian suami keduanya itu kembali mengguncang jiwanya. Ia merasakan kesedihan yang mendalam.

Setelah itu, datanglah Zubair bin ‘Awwam melamar Atikah. Keduanya pun akhirnya menikah. Zubair bin ‘Awwam adalah seorang lelaki pencemburu. Sebagaimana biasanya, Atikah keluar ke masjid bersama wanita-wanita lainnya untuk melaksanakan shalat lima waktu. Sebenarnya Zubair keberatan jika Atikah keluar sekalipun ke masjid. Tapi dirinya tak mampu melarangnya lantaran Rasulullah Saw bersabda: “Janganlah kalian melarang para wanita yang hendak ke masjid!”

Sampai pada akhirnya suatu malam, Zubair bersembunyi di sebuah tempat yang biasa di lalui oleh Atikah di masjid. Tapi Atikah tidak mengetahui hal itu. Saat Atikah lewat, Zubair menepuk pantat Atikah dengan cepat lalu pergi. Atikah tidak tahu siapa yang telah melakukan hal itu padanya. Sejak saat itulah ia tidak mau ke luar ke masjid. Lalu Zubair bin ‘Awwam bertanya kepadanya: “Kenapa kamu tidak keluar ke masjid, Atikah?”

“Dulu kami (wanita) keluar ke masjid ketika manusia masih memiliki jiwa kemanusiaannya, dan tidak ada penyakit dalam diri dan hati mereka. Adapun sekarang tidak begitu, karena itulah aku tidak keluar.” jawab Atikah dengan mantap.

Memang benar, bukan laut jika airnya tak berombak. Bukanlah badai jika tidak mampu menggoyahkan pepohonan. Bukan cinta jika perasaan tak pernah terluka. Dan bukan kekasih namanya jika hatinya tak pernah merindu dan cemburu. Dan itulah yang dirasakan Zubair bin ‘Awwam saat itu kepada istrinya, Atikah.

Bahtera rumah tangga yang dilaluinya bersama Zubair bin ‘Awwam ternyata tidak berlangsung lama. Hingga pada suatu saat Zubair terbunuh di tangan ‘Amr bin Jarmuz di lembah Siba’. ‘Amr bin Jarmuz menikamnya saat ia sedang tidur di sana.

Tiga lelaki yang menikahinya semuanya mati terbunuh sebagai syuhada’. Mulai dari Abdurrahman bin Abu Bakar, Umar bin Khattab sampai Zubair bin ‘Awwam. Semua terbunuh. Lalu datanglah Muhammad bin Abu Bakar menikahinya. Dia adalah lelaki keempat yang menikah dengannya. Namun sungguh sayang, Muhammad bin Abu Bakar terbunuh saat melarikan diri dari kejaran tentara Yazid bin Mu’awiyah dari Daulah Umawiyah ke Mesir. Di sana Muhammad bin Abu Bakar terbunuh.

Genap sudah empat lelaki yang telah menikah dengannya. Semuanya gugur di medan jihad sebagai syuhada’. Karena itulah Atikah mendapat julukan “Zaujusy Syuhada’” (istri para syuhada’).

Baru pada saat itu lisannya mengucap beberapa patah kata: “Setelah ini aku tak akan menikah selamanya. Aku mengira, seandainya aku menikah dengan semua laki-laki yang ada di bumi ini, niscaya mereka akan terbunuh sebagai syuhada.”

By: Herfi Ghulam Faizi, Cahaya Siroh