Hewan yang Bertaring Haram Hukumnya?

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh
Al-hamdulillah, wash-shalatu wassalamu ‘ala rasulillah, wa ba’du

 

harimau

Binatang yang bertaring hukumnya haram dimakan. Dan bukan hanya yang bertaring, namun yang bercakar juga haram dimakan. Namun yang dimaksud dengan bertaring dan bercakar itu adalah bahwa hewan itu menggunakan taring dan cakarnya itu untuk berburu untuk mendapatkan mangsanya, bukan sekedar punya taring dan cakar. Sebab banyak sekali hewan yang punya taring dan cakar, namun tidak termasuk hewan buas yang berburu mangsa menggunakan taring dan cakar. Sehingga tidak termasuk yang haram dimakan.

Tentang dalil keharaman memakan hewan yang punya taring dan cakar untuk berburu mangsa, ada beberapa nash sunnah yang menyebutkan hal itu. Di antaranya adalah nash berikut ini.

Dari Abu Tsa’labah Al-Khunasyi ra. sesungguhnya Rasululloh SAW telah bersabda, “Setiap bintang buas yang memiliki taring, maka memakannya adalah haram.” (HR HR Muslim 1932, Ahmad 4/194, Tirmidzi 1477, Nasa’i 7/201, Ibnu Majah 3232)

Dari Ibnu Abbas ra. bahwa Rasulullah SAW melarang untuk memakan hewan yang memiliki taring diantara hewan buas dan yang memiliki cakar dari jenis burung (HR Muslim).

Yang dimaksud memiliki cakar adalah juga bukan semata-mata punya kuku. Di kalangan bangsa Arab, hewan bercakar maksudnya adalah jenis burung yang buas yang menggunakan cakar untuk berburu. Sedangkan yang bercakar tapi tidak untuk berburu mangsa, sepert ayam, merpati dan burung-burung penyanyi lainnya, karena secara alamiah tidak berburu dengan cakarnya, maka tidak termasuk yang diharamkan. Meski secara zahir mereka punya cakar, tapi sebenarnya bukan cakar tapi lebih tepatnya adalah ceker. Dengan ceker itulah ayam mengais-ngais makanannya. Tetapi ayam tidak pernah berburu hewan lainnya untuk dimakan. Sehingga ayam bukan termasuk hewan buas yang haram dimakan.

Demikian juga dengan kucing, meski punya taring dan kuku, yang tentunya haram dimakan, namun tidak berarti kucing itu menjadi hewan najis. Dan secara khusus, ada nash yang menyebutkannya ketidak-najisan air liur kucing, yaitu hadits berikut:

Dari Ka’ab bin Malik bahwa Rasulullah SAW bersabda tentang kucing, “Sesungguhnya (kucing itu) tidaklah najis karena dia termasuk yang berkeliling (thawwafina) di antara kamu. (HR An-Nasa’i, Abu Daud)

Bahkan diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah berwudhu dari air yang telah diminum oleh kucing.

Dari Aisyah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, “(Kucing) itu tidaklah najis.” Dan aku (Aisyah ra) melihat Rasulullah SAW berwudhu dengan air bekas kucing. (HR Abu Daud).

Wallahu a’lam bish-shawab, Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh.