Mengapa Berat Hati Berkarya Dari Rumah?

Mengapa Berat Hati Berkarya Dari Rumah?Radio Tamhid – Mengapa Berat Hati Berkarya Dari Rumah?

Langit tak lagi semerah saga. Malam perlahan datang. Layar di gawai pintar menunjukkan detik semakin mendekati Isya. Commuter line jurusan Jatinegara-Bogor penuh sesak, tak terkecuali gerbong satu dan delapan khusus untuk perempuan. Apalagi jika roker (rombongan kereta) di Stasiun Tanah Abang dan Sudirman (dua stasiun yang masuk daftar 5 besar penumpang teramai) telah bergabung. Diperkirakan dalam satu gerbong itu mampu diisi sekitar 250 orang. Sehingga kedua kaki hampir tak menapak di lantai gerbong, karena sangat padatnya. Berhasil masuk gerbong saja itu merupakan sebuah keberuntungan.

Hal ini kerapkali berlangsung di rush hour, sekitar pukul 06:00-08:00 pagi dan 16:00-19:30 petang. Pernah merasakan sensasinya? Jika tidak kuat mental, jangan coba-coba!

Pada jam-jam tersebut, tidak sedikit pula yang berjuang di tengah kemacetan lalu lintas ibukota dan wilayah sekitarnya. Bersyukurlah para perempuan yang tidak harus melalui hal tersebut setiap harinya. Terbesit tanya dalam benak, “kuat sekali para perempuan ini, seharian bekerja di luar rumah, pulang sudah lelah masih harus mengurus suami dan anak-anaknya, bagaimana bisa?”

Pertama, dengan segala keterbatasan, izinkan saya memohon maaf jika pembahasan ini menambah perih hati-hati yang luka, kalau memang di sana ada luka. Semoga diterima sebagai bentuk cinta. Karena cinta tidak selalu melulu hadir dalam kelemahlembutan. Meski tegas, yakinlah itu tetap cinta.

Cinta yang lahir saat melihat kondisi berulang selama belasan tahun lamanya. Ketika terus menyaksikan tak sedikit kaum hawa rela menjadi wanita karir, bahkan kini menjadi wali kota, anggota dewan, atau presiden sebuah negara. “Ini aktualisasi diri”, katanya. Yang sedikit kurang beruntung terpaksa memilih menjadi buruh, kondektur, sopir, dan berbagai profesi lainnya.

Pemahamannya adalah: bukan cuma laki-laki yang boleh keluar rumah, keduanya merasa boleh bekerja, bekarya sebaik-baiknya. Sementara anak di rumah boleh diurus suster, bibi, atau neneknya.

Benarkah ini karena cinta keluarga? Bukan demi kesetaraan? Atau demi kesejahteraan? Biarkan hati terdalam kita yang menjawabnya.

Kedua, saya tidak akan membahas halal dan haramnya, karena saya bukan fuqaha. Hanya ingin mengajak fokus sesaat, mengambil jeda untuk merenung sedikit lebih lama.

Dari Rumah Membangun Peradaban

Ustadz Budi Ashari, Lc dalam kajiannya mengungkap pelajaran dari Q.S Al Ahzab 28-34, ayat-ayat yang dikhususkan untuk ummahatul mukminin. Menurutnya, Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ummahatul mukminin adalah teladan tertinggi bagi setiap muslimah. Termasuk bagian yang harus diteladani adalah tentang aktivitas bagi wanita. Apalagi saat ini semakin tidak jelas perbedaan antara laki-laki dan perempuan.

Harus terus diingat bahwa laki-laki tidak sama dengan perempuan. Ada wilayah yang sama, namun ada yang berbeda. Musibah peradaban saat ini adalah saat melahirkan generasai “tanpa corak”. Generasi yang bingung dimulai dari orangtua yang bingung dengan perannya. Hingga “corak” yang anak miliki entah dari mana datangnya. Saat kedua orangtua meninggalkan rumah, siapa yang mendidik anak-anak di kesehariannya?

Dalam Surat AL Ahzab ayat 33 teks menyatakan, ”Menetaplah kalian di rumah-rumah kalian!” Ini perintah Allah. Inilah pondasi dasar. Bukan berarti harus selalu dikurung dalam rumahnya. Bukan bermakna perempuan tidak boleh memiliki keterampilan, tidak boleh punya lifeskill.

Ibunda Khadijah punya kemampuan berdagang yang istimewa. Saudagar di kancah Internasional. Punya kumpulan pedagang yang besar. Namun setelah menikah fokus pada rumah tangganya. Karena harus konsentrasi menjadi seorang istri dan ibu. Mari kita bayangkan betapa sibuknya seorang ibu yang memiliki 6 anak. Perniagaannya diserahkan kepada suaminya. Beliau berkarya sebaik-baiknya di rumah. Perempuan istimewa yang mendapatkan salam langsung dari Allah. Bahkan Allah membangun sebuah istana mutiara di surga untuknya. Surga untuk perempuan yang sangat memahami perannya.

Ustadz Budi mengungkapkan pula bahwa sebagian muslim saat ini tidak ridha dengan ayat. Akibatnya ketika disuguhi ayat maka langsung protes. Berbeda dengan generasi terbaik, mereka akan berupaya menjalankan sebaik-baiknya, kemudian bertanya bagaimana menjalankannya.

Profesi Istri-Istri Rasulullah ﷺ

Adakah istri-istri Rasulullah yang memiliki pofesi lain di luar tugasnya sebagai ibu rumah tangga? Pertama, mari kita bahas ibunda kita, Zainab binti Zahsy. Imam Adz-Dzahabi (2015:249) menyebutnya, “… salah seorang pemimpin wanita di bidang agama, (memiliki) sifat wara’, kemurahan hati, dan kebajikan.”

Ibunda ‘Aisyah, meski sering cemburu pada Ibunda Zainab dan terjadi persaingan antara keduanya, namun tetap adil memuji. Al Mishri (2015:260) mengungkap apa yang disampaikan Ibunda ‘Aisyah, “Di antara istri-istri Nabi, dialah (Zainab) yang menyamai kedudukanku (di mata Rasulullah), hingga Allah menjaganya dengan sifat wara’.” Ustadz Budi menyampaikan bahwa Zainab adalah sosok yang bekerja dengan keterampilan kedua tangannya. Bahkan bisa bershadaqah dari hasilnya itu,

Ketika memahami ayat perintah menetaplah kalian di rumah kalian. Bukan berarti perempuan tidak boleh punya penghasilan. Zainab bisa menyamak kulit, untuk perkakas, tempat minum, bejana, dll. Zainab juga punya juga kemampuan menenun. Kemudian bershadaqah dari hasil pekerjaannya itu. Dalam sebuah riwayat disebutkan juga bisa jualan minyak wangi. Ini menunjukkan mereka punya banyak aktivitas. Tapi mereka faham betul bahwa tugas mereka adalah mengurus rumah tangga, mengurus Rasulullah.”

Satu hal yang kerap terlupa oleh para istri adalah bahwa mendampingi suami itu aktivitas yang besar. Karena penting, Rasul biasa mengundi siapa istrinya yang akan ikut mendampingi ke medan jihad. Maka yang selanjutnya akan kita bahas adalah Ibunda ‘Aisyah. Perempuan yang paling Rasulullah cintai. Ibunda ‘Aisyah pernah mengutarakan, “aku harus membayar qadha (utang puasa)ku saat Sya’ban atau mendekati Ramadhan, karena kesibukanku mendampingi dan melayani Rasulullah.” Hal ini memperlihatkan pada kita betapa pentingnya mengurus suami.

Ibunda ‘Aisyah memiliki lifeskill luar biasa. Ketika Rasul wafat beliau memiliki keahlian yang jarang dimiliki oleh orang lain.

Keahlian pertamanya adalah sebagai seorang guru. Dr. Adnan Baharits menyatakan profesi guru adalah profesi yang paling dekat dengan fitrah perempuan. Karena bertemu dengan anak-anak sehingga memicu terpancarnya kelembutan dan kasih sayang. Ibunda ‘Aisyah adalah sumber ilmu, perempuan paling cerdas di zamannya. Mendapat ilmu dari ayahnya berupa keahlian dalam ilmu Nasab. Salah satu hal sangat penting dalam Islam. Banyak para sahabat Rasul yang belajar darinya.

Kemudian Ibunda ‘Aisyah memiliki kecerdasan bersyair. Syair merupakan kemampuan komunikasi paling utama saat itu. Syair adalah media, bisa menggerakkan masyarakat untuk marah, untuk senang, dsb. Ibunda ‘Aisyah sangat pandai bersyair.

Selanjutnya adalah ilmu pengobatan. Keponakannya, Urwah bin Zubair bertanya kepadanya, “Kalau bunda ahli hadits aku tidak heran, karena kau adalah istri tercinta Rasulullah. Jika bunda ahli syair dan nasab akupun tidak heran, karena kau anak Abu Bakar. Tapi dari mana bunda tahu tentang pengobatan?” Ternyata ketika Rasul sakit banyak pakar pengobatan yang datang untuk memberikan obat dan ramuan, mereka banyak memberikan saran pada ibunda ‘Aisyah.

Saat ini dunia kesehatan sangat penting untuk diisi oleh perempuan. Betapa banyak kondisi ketika ingin berobat tapi hanya ada ahli pengobatan laki-laki. Ustadz Budi mengajak kita untuk mewakafkan putri-putri kita agar mengisi wilayah-wilayah yang masih darurat, seperti dunia kesehatan dan pengobatan.

Sampai kapan hidup ini darurat? Apalagi jika ternyata ruang-ruang itu tidak benar-benar darurat? Apakah kita akan ridha kalau zaman ini akan terus disebut kondisi darurat? Arahkan ke wilayah perempuan. Jangan sampai tumpang tindih. Islam sudah mengatur.

Inilah profesi istri-itri Rasulullah: pedagang, penyamak kulit, penenun, guru, dan tenaga kesehatan. Ummahatul mukminin telah memberikan teladan: melakukan semua profesi itu dari rumah, tanpa mengurangi tugas utamanya sebagai istri dan ibu rumah tangga.

Sudahkah kita meneladani perempuan-perempuan istimewa para penghuni Jannah? Semoga Allah memberi kita kekuatan untuk bersabar dan bersyukur untuk berkarya tanpa harus meninggalkan rumah. (Parenting Nabawiyah)