Peran Muslimah dan Strategi Musuh untuk Merusaknya

indexWanita merupakan salah satu pilar pembangun peradaban manusia. Wanita memiliki posisi yang sangat strategis dalam membangun kualitas masyarakat. Sebagai salah satu pilar pembangun ummat, wanita melahirkan generasi harapan sebagai pilar yang lain, sehingga tidak salah sebagian orang menyatakan, wanita adalah representasi dari keseluruhan umat.

Mengingat posisinya yang sangat penting dan sangat menentukan, Islam memuliakan harkat dan martabat wanita dan sangat memuliakannya, baik statusnya sebagai seorang ibu, istri maupun sebagai seorang anak. Kedudukan mulia seorang wanita di sisi Allah diraihnya berdasarkan ketakwaan kepada-Nya sebagaimana termaktub dalam (Q.S. Al Hujurat : 33). Allah Ta’ala juga tegaskan dalam firman-Nya :

Barangsiapa yang mengerjakan amalan shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan kami beri balasan pula kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S. An Nahl: 97)

Diantara perhatian serius Rasulullah y dalam memuliakan wanita adalah dalam hak pendidikan dan mendapatkan ilmu. Dengan ilmu seorang wanita dapat mengenal Allah dan agamanya, dengan modal ilmu yang benar seorang wanita dapat menjadi anak yang berbakti, menjadi istri yang shalehah dan ibu sekaligus pendidik bagi anak-anaknya.

Begitu seriusnya Rasulullah y dalam urusan pendidikan wanita, meski seorang yang ummi (tidak bisa membaca dan menulis), beliau memerintahkan seseorang untuk mengajarkan istri beliau Hafshah binti Umar –radhiyallaahu ‘anhuma– di usia lanjut membaca dan menulis. Rasulullah y bersabda kepada seorang shohabiah yang bernama Syifaa’ : “Ajarkan pada Hafshah ruqyah namlah itu, seperti engkau mengajarkannya menulis.” (HR. Abu Daud/shahih). Hadits ini menggambarkan sebuah teladan bagaimana seorang suami memaksimalkan waktu yang dimiliki istri mengisinya dengan sesuatu yang bermanfaat di dunia dan di akherat. Bandingkan dengan kehidupan rumah tangga sekarang, banyak diantara para suami yang membiarkan istrinya bodoh akan agamanya dengan menjadi korban sinetron dan siaran-siaran gosip (baca ; ghibah) yang banyak menghiasi layar televisi.

Imam Bukhari bahkan menuliskan satu bab khusus dalam hal ini “Bab seorang laki-laki mengajarkan ilmu kepada budak wanitanya dan istrinya”, lalu beliau menyebutkan sebuah hadits Nabi yang berbunyi : “Ada tiga orang yang mendapatkan dua pahala : …dan seorang laki-laki yang memiliki seorang budak wanita, dia mendidiknya dengan benar, mengajarinya ilmu dengan benar, kemudian memerdekakannya dan menikahinya, dia mendapatkan dua pahala” (HR. Bukhari).

Tidak hanya itu, Rasulullah y mengabulkan permintaan para shahabiyah agar menyediakan waktu khusus untuk mereka menimba ilmu dari beliau. Abu Sa’id Al Khudri berkata : para wanita mendatangi Rasulullah y dan berkata: kaum laki-laki lebih unggul dari kami –dalam menimba ilmu-, maka sediakanlah satu hari khusus untuk kami menimba ilmu. Lalu Nabipun menjanjikan waktu khusus untuk mereka, di hari itu Nabi memberi mereka peringatan dan perintah-perintah”. Dalam riwayat lain dari Abu Hurairah, Nabi bersabda: “Tempat kalian –menimba ilmu- adalah rumah fulanah, dan Nabipun menyampaikan hadits (ilmu) kepada mereka”. (Fathul Bari: 1/195)

Ibarat sebuah sekolah atau madrasah, Rasulullah adalah kepala sekaligus gurunya, para shahabat dan shahabiyah adalah muridnya. Ilmu yang Rasulullah ajarkan merupakan ilmu yang sangat mereka butuhkan baik dalam urusan-urusan duniawi maupun perkara-perkara ukhrowi. Terutama ilmu yang beliau ajarkan kepada para wanita. Rasulullah menanamkan kepada mereka keimanan, mengajarkan mereka thaharoh, sholat, shaum, zakat haji dan amalan ketaatan, memahamkan mereka hukum-hukum khusus berkenaan dengan wanita, mengajarkan mereka tugas-tugas mulia wanita sebagai seorang anak sehingga tumbuh dalam ketaatan kepada Allah. Sebagai seorang ibu yang mendidik anak-anak yang taat kepada Allah, memberikan manfaat untuk keluarga dan masyarakat. Sebagai seorang istri yang memahami hak dan kewajiban dalam rumah tangga serta pendidikan anak. Merekapun mempelajari bagaimana peran wanita dalam berdakwah dan beramar makruf nahi munkar khususnya di kalangan wanita. Bahkan beberapa shahabiyah turut serta merawat korban-korban luka dalam peperangan dan jihad fi sabilillah didampingi mahram mereka.

Kelak dari rahim para wanita didikan Rasulullah lahir para pemimpin yang siap menegakkan hukum syariat, para ulama yang menyampaikan kebenaran dengan amanah dan membentengi akidah ummat dari berbagai macam faham menyimpang, para hakim yang adil dan bijaksana, para pedagang yang jujur, lahir generasi yang menegakkan shalat dan menjauhi hawa nafsu dan lahir masyarakat yang siap berkorban membela agama dan tanah air kaum muslimin.

Peran penting wanita diatas sangat difahami oleh musuh-musuh Islam, merekapun berusaha merusak keimanan para wanita, menjerumuskan mereka kedalam budaya syahwat dan hawa nafsu dengan tiga cara mematikan.

Pertama: Kristenisasi, salah satu tujuan misionaris ialah merusak tatanan keluarga muslim sebagai pintu menghancurkan ummat islam dan melemahkan kekuatan mereka. Berkedok peduli dengan pendidikan kaum wanita, dimana sejatinya mereka menebarkan racun, menentang adab-adab islam yang kokoh, menyebarkan filsafat, budaya menghalalkan segala cara dan membebaskan wanita dari aturan agamanya. Mereka mendapatkan angin segar dengan mendapati sebagian kaum muslimin yang takjub melihat ilmu yang berkembang di barat.

Muhammad quthub dalam (Jahiliyah abad 21, hal. 332-333) menukil perkataan seorang Amerika keturunan Yahudi yang berkata : “sesungguhnya wanita muslimah yang mempelajari (ilmu barat) adalah anggota keluarga yang paling jauh dari pengajaran agamanya, bahkan dia paling berpotensi menyeret seluruh masyarakat menjadi jauh dari ajaran Islam.

Kedua: ikhtilath (bercampurnya laki-laki dan wanita). Ikhtilath yang sangat berbahaya adalah ikhtilath yang terjadi di sekolah-sekolah dan pusat-pusat belajar. Hal itu dikemas dengan sampul kepedulian dengan pendidikan wanita dan menyelamatkan wanita dari ketertinggalan. Padahal yang mereka lihat hanyalah kenyataan para wanita barat dan Eropa yang rusak akibat dari pergaulan bebas. Ikhtilath tidak lain hanyalah racun mematikan yang mereka suntikkan, hal itu mereka lakukan karena para pelajar wanita dan laki-laki merupakan generasi masa depan, jika mereka rusak akibat pergaulan bebas dan budaya memperturutkan syahwat maka kerusakan suatu ummat tinggal menunggu waktu. Ibnul Qoyyim dalam Ath Thuruq Al Hukmiyyah berkata : “Tidak diragukan lagi bahwa bercampur baurnya wanita dan laki-laki merupakan sumber keburukan dan kebinasaan, penyebab utama turunnya musibah, penyebab rusaknya tatanan masyarakat. Serta Ikhtilath dan pergaulan bebas penyebab banyaknya perbuatan keji dan perzianaan.”

Kita semua tentu miris mendengar berita puluhan siswa siswi SMA di sebuah kota melakukan pesta seks seusai melaksanakan ujian nasional. Ujian nasional yang sejatinya sebagai alat ukur kompetensi siswa secara kognitif namun sayang tidak dibarengi dengan kompetensi keimanan dan akhlak yang baik. Jika sudah terjadi demikian tentu banyak pihak yang harus bertanggungjawab, utamanya kedua orang tua dan pendidik yang mendampingi mereka.

Ketiga: pendidikan sebagai sarana Westernisasi (mengikuti budaya barat). Para wanita dalam sistem pendidikan yang berlaku di banyak tempat menempuh pendidikan bertahun-tahun namun sangat disayangkan mereka mempelajari ilmu yang tidak banyak mereka butuhkan baik untuk urusan dunia mereka apatah lagi permasalahan dan urusan agama mereka. Tabloid dan majalah lebih sering mereka baca ketimbang Alquran dan Hadits Nabi. Kita tidak menafikan adanya wanita-wanita muslimah yang masih menjaga agama dan akhlak mereka, hanya kemudian timbul satu masalah baru yang terjadi di banyak tempat yaitu banyaknya perawan tua yang telat menikah demi mengejar karir akademik ataupun karir di dunia kerja, dan ketika mereka berkeluarga merekapun tidak siap mendidik anak-anak mereka menjadi generasi tangguh dan bermanfaat untuk agama dan ummat dikarenakan minimnya modal yang mereka miliki dan sedikitnya mereka mengenyam kurikulum nabawy khususnya untuk para wanita. Akhirnya tatanan keluarga muslim sebagai pilar pembangun masyarakatpun dengan sangat mudah rusak bahkan hancur berantakan.

Pertanyaannya adalah : Akankah kita serahkan pendidikan putra putri kita kepada para pembajak makna kebebasan, kemajuan dan hak pendidikan bagi wanita? Sebagai orang tua, pilihan yang kita ambil akan kita pertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah Ta’ala!!

 By: Y-Z