Sahkah Berhaji Dengan Harta Haram?

Sahkah Berhaji Dengan Harta Haram?Radio Tamhid – Sahkah Berhaji Dengan Harta Haram?

Menunaikan ibadah haji merupakan rukun Islam yang kelima. Haji adalah ibadah yang sangat mulia. Haji yang mabrur akan dibalas Allah dengan surga-Nya. Sebagaimana sabda Nabi SAW, “Umrah yang satu ke umrah berikutnya adalah penghapus dosa-dosa di antara kedua umrah tersebut, dan haji mabrur tiada balasannya selain surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pahala yang sangat besar ini mendorong jutaan kaum muslimin dari seluruh dunia untuk antusias melaksanakan ibadah haji. Jarak yang jauh menuju kota suci Makkah dan besarnya biaya perjalanan tidak menyurutkan semangat mereka. Di Indonesia sendiri, jutaan umat Islam harus bersabar dalam antrian panjang calon jama’ah haji. Sebab, kuota jama’ah haji Indonesia hanya berkisar 220.000 orang. Tak heran apabila banyak calon jama’ah haji rela mengeluarkan biaya lebih besar, asalkan bisa berangkat haji lebih awal dan tidak menunggu antrian beberapa tahun.

Dalam beberapa tahun terakhir, salah satu kasus yang mulai marak terjadi dalam ibadah haji di Indonesia adalah pelaksanaan ibadah haji dari harta haram. Sebagai contoh, sebagian pejabat pemerintahan melaksanakan ibadah haji dengan harta hasil korupsi. Sebagian selebritis berangkat haji, atau menghajikan orang tua dan saudara-saudaranya, dari hasil bermain musik, menyanyi, bermain film, atau bermain sinetron. Sudah diketahui bersama bahwa hampir keseluruhan musik, lagu, film, dan sinetron tersebut bermuatan zina mata, zina telinga, zina mulut, zina tangan, zina kaki, dan zina hati.

Para bandar narkoba juga tidak mau ketinggalan. Mereka melaksanakan haji, atau menghajikan orang tua dan saudara-saudara mereka dari hasil bisnis narkoba. Sementara itu, sebagian karyawan bank dan perusahaan asuransi melaksanakan haji dengan biaya dari kantornya, lembaga ekonomi yang setiap hari bergumul dengan riba.

Fenomena ini memunculkan sejumlah pertanyaan baru di tengah umat. Sahkah ibadah haji yang ditunaikan dari harta haram tersebut? Seberapa jauh pengaruh harta haram tersebut terhadap kemabruran haji mereka?

Tidak diragukan lagi bahwa ibadah haji harus ditunaikan dari harta yang halal. Nabi SAW bersabda, “Wahai manusia, sesungguhnya Allah Mahabaik dan Allah tidak akan menerima kecuali sesuatu yang baik. Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang beriman perintah yang sama dengan perintah-Nya kepada para rasul. Allah berfirman, “Wahai para rasul, makanlah dari harta-harta yang baik dan beramal shalihlah kalian! (QS. al-Mu’minun [23]: 51)­.” (HR. Muslim).

Jika seorang calon jama’ah haji ingin amalnya diterima, dosanya diampuni, hajinya mabrur, dan surga Allah menjadi balasannya; maka ia wajib berhaji dengan harta yang halal dan baik. Harta tersebut tidak selayaknya mengandung unsur syubhat, apalagi mengandung unsur haram, atau bahkan keseluruhannya haram.

Imam Ahmad bin Hambal berpendapat tidak sah haji seseorang yang ditunaikan dengan harta haram. Beliau berargumen dengan hadits dari Abu Hurairah RA bahwa Nabi SAW bersabda, “Jika seseorang berangkat haji dengan nafkah (harta) yang buruk dan ia meletakkan kakinya pada sedel hewan kendaraannya, lalu ia mengucapkan talbiyah labbaik allahumma labbaik, maka ada seorang penyeru dari langit (Allah atau malaikat) yang menjawab, “Tidak labbaik dan juga tidak sa’daik, mata pencaharianmu haram dan bekalmu haram. Maka pulanglah engkau dengan membawa dosa, tanpa pahala, dan bergembiralah dengan hal yang akan menyusahkanmu.” (HR. al-Bazzar dan ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Ausath)

Dalam sanad hadits ini terdapat perawi yang sangat lemah bernama Sulaiman bin Daud al-Yamami. Imam Al-Bukhari menyatakan bahwa haditsnya munkar.

Adapun mayoritas ulama madzhab berpendapat ibadah haji dengan harta haram tetap sah, namun hajinya tidak mabrur dan pahalanya berkurang.

Imam an-Nawawi mengatakan, “Jika ia menunaikan haji dengan harta haram atau menaiki kendaraan hasil curian, maka ia berdosa, namun hajinya sah dan telah menggugurkan kewajibannya menurut madzhab kami. Demikian pula pendapat Imam Malik, Abu Hanifah, dan al-Abdari, dan pendapat ini dipegang oleh mayoritas ulama fikih. Adapun Imam Ahmad berpendapat bahwa hajinya tidak sah.” (al-Majmu’ Syarh al-Muhaddzab, 7/40).

Al-Lajnah ad-Daimah lil-Buhuts al-Ilmiyah wa Ifta’ Arab Saudi memfatwakan, “Pelaksanaan haji dengan harta yang haram tidak menghalangi keabsahan haji, namun ia berdosa karena hartanya diperoleh dari jalan yang haram. Pahala hajinya berkurang, namun hajinya tidak batal.” (Fatawa al-Lajnah ad-Daimah, 11/43)

Syaikh Muhammad Shalih al-Utsaimin dalam fatwanya menyatakan, “Haji yang dilakukannya sah walaupun ia berhaji dengan harta yang haram. Namun hajinya bukan haji mabrur.”

Berdasarkan pendapat mayoritas ulama di atas, haji yang ditunaikan dengan uang haram tetap sah dan telah menggugurkan kewajibannya. Namun, jika dikotori dengan dosa, maka hajinya tidak mabrur. ( hujjah / Radio Tamhid)

Wallahu a’lam bish-shawab.