Sebaik-baik Harta, Harta Orang Shalih

Sebaik-baik Harta, harta Orang SholihHadis Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ حَدَّثَنِى أَبِى حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ عَلِىٍّ عَنْ أَبِيهِ قَالَ سَمِعْتُ عَمْرَو بْنَ الْعَاصِ يَقُولُ بَعَثَ إِلَىَّ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ « خُذْ عَلَيْكَ ثِيَابَكَ وَسِلاَحَكَ ثُمَّ ائْتِنِى ». فَأَتَيْتُهُ وَهُوَ يَتَوَضَّأُ فَصَعَّدَ فِىَّ النَّظَرَ ثُمَّ طَأْطَأَهُ فَقَالَ « إِنِّى أُرِيدُ أَنْ أَبْعَثَكَ عَلَى جَيْشٍ فَيُسَلِّمَكَ اللَّهُ وَيُغْنِمَكَ وَأَرْغَبُ لَكَ مِنَ الْمَالِ رَغْبَةً صَالِحَةً ». قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَسْلَمْتُ مِنْ أَجْلِ الْمَالِ وَلَكِنِّى أَسْلَمْتُ رَغْبَةً فِى الإِسْلاَمِ وَأَنْ أَكُونَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-. فَقَالَ « يَا عَمْرُو نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ لِلْمَرْءِ الصَّالِحِ »

Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman Telah menceritakan kepada kami Musa bin Ali dari Bapaknya ia berkata, saya mendengar Amru bin Ash berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus seseorang kepadaku agar mengatakan, “Bawalah pakaian dan senjatamu, kemudian temuilah aku.” Maka aku pun datang menemui beliau, sementara beliau sedang berwudlu. Beliau kemudian memandangiku dengan serius dan mengangguk-anggukkan (kepalanya). Beliau lalu bersabda: “Aku ingin mengutusmu berperang bersama sepasukan prajurit. Semoga Allah menyelamatkanmu, memberikan ghanimah dan dan aku berharap engkau mendapat harta yang baik.” Saya berkata, “Wahai Rasulullah, saya tidaklah memeluk Islam lantaran ingin mendapatkan harta, akan tetapi saya memeluk Islam karena kecintaanku terhadap Islam dan berharap bisa bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Maka beliau bersabda: “Wahai Amru, sebaik-baik harta adalah harta yang dimiliki oleh hamba yang Shalih.” (HR. Ahmad 4/197. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim)

Kisah diatas memberi pelajaran kepada kita bahwa islam tidaklahmelarang umatnya untuk memiliki harta, tidak pula membatasinya. Tetapi disisi lain menjelaskan bahwa seburuk-buruknya harta itu tergantung si empunya.Jika sipemilik harta adalah orang yang baik dan shalih, maka hartanya akan bermanfaat bagi dirinya, baik didunia apalagi kelak diakhirat. Sebaliknya, jika si pemilik buruk akhlaknya maka hartanya akan mengundang malapetaka. Jika tidak di dunia, maka kelak di akhirat akan menjadi sebab mutka dan siksa.

Rasulullah juga pernah mendokan Anas Bin Malik

“Ya Allah, perbanyaklah hartanya dan anaknya serta berkahilah dia.”

Dari doa Rasulullah tersebut menunjukan bahwa beliau tidak melarang umatnya untuk memiliki harta, meski banyak sekalipun.

Tidak meremehkan harta

sesuai dengan fitrah manusia yang ingin memiliki harta demi mencukupo kebutuhannya, Islam tidak melarangnya umat-nya untuk mencarinya. Asal tidak bertentangan dengan aturan syariat dalam mengupayakannya.

Tidak sebagaimana yang diyakini oleh orang-orang sufi. Mereka berkeyakinan bahwa meninggalkan harta, meski halal, itu lebih utama daripada mengumpulkannya. Bahkan, mereka berani menyatakan akan haramnya mengumpulkan harta.

Tentu pemahaman tersebut tidaklah benar. Karena nyatanya Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk mengelola harta dan menjaganya, serta tidak menyerahkannya kepada orang yang tak mampu mengelolanya.

Allah Ta’ala berfirman, “Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekusaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan….” (An-Nisa :5)

Dalam hadits shahih dari Mughirah bin Syu’bah juga disebutkan bahwasanya Rasulullah melarang menyia-nyiakan harta.

Perintah untuk mengelola harta dan larangan menyia-nyiakannya adalah bukti Islam tak melarang umatnya untuk memiliki harta. Karena bagaimana mungkin mengelolanya dengan baik dan tak menyia-nyiakan harta, jika tidak memilikinya terlebih dahulu.

Dengan memiliki harta, potensi dan juga peluang beramal shalih juga lebih terbuka lebar. Bahkan para sahabat yang miskin, pernah mengajukan keberatan dengan Rasulullah akan peluang sahabat yang kaya untuk lebih banyak beramal shalih dibanding mereka.

Selain bersedekah berinfak dan amalan lain yang membutuhkan biaya, memiliki harta juga bisa menjaga kemuliaan diri tanpa harus menggantungkan hidup kepada orang lain.

Rasulullah bersabda, “Engkau tinggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya itu lebih baik bagimu daripada engkau tinggalkan mereka dalam keadaan miskin sehingga meminta-minta kepada orang lain. (HR. Al Bukhari Muslim)

Waspadai fitnah harta

Dalam rangkaian panjang kehidupan yang tujuannya adalah beribadah kepada Allah, maka pasti tidak akan pernah terlepas dengan ujian dan cobaan. Termasuk di dalamnya ada ujian ketika memiliki harta.

Di dalam beberapa firman-Nya, Allah menyebutkan bahwa harta itu adalah ujian.

“Dan ketahuilah. bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allahlah pahala yang besar” (Al anfal 28)