Shalat Tarawih dan Shalat Tahajjud Dalam satu malam?

dsfsdSebelum kita berbicara mengenai perbedaan antara shalat tarawih dan shalat tahajud, kita harus memahami terlebih dahulu apa itu shalat tarawih dan apa itu shalat tahajjud, meskipun sama-sama shalat malam atau qiyamullail.

Dinamakan shalat tarawih karena artinya istirahat, karena orang yang melakukan shalat tarawih beristirahat setelah melaksanakan shalat empat raka’at. Hanya saja shalat tarawih ini dikhususkan di bulan Ramadhan. Dan dalam pelaksanaan shalat tarawih tidak disyariatkan untuk tidur terlebih dahulu, sedangkan shalat tahajjud menurut mayoritas pakar fiqih adalah shalat sunnah yang dilakukan setelah bangun tidur dan dilakukan di malam mana saja.

Bolehkah setelah Shalat tarawih dan shalat tahajjud dalam satu malam?

Dibolehkan bagi yang sudah shalat Tarawih berjamaah di masjid sampai selesai, untuk melaksanakannya lagi di rumah karena menurut mayoritas ulama, shalat Tarawih pada bulan Ramadhan tidak ada batas jumlah rakaatnya.

Dengan demikian, orang yang shalat Tarawih secara berjamaah di masjid dan merasa belum puas, boleh melakukan shalat tahajud lagi pada malam harinya.

Bisa jadi seseorang tidak merasa puas dengan shalat Tarawih yang dikerjakan berjamaah di masjid, mengingat shalat Tarawih berjamah di Indonesia biasanya dilaksanakan secara cepat.

Bagaimana cara pelaksanaannya? Bisa dengan memilih salah satu dari tiga cara :

Cara Pertama: Tetap mengikuti shalat Tarawih dengan imam di masjid sampai selesai berikut shalat witirnya, kemudian melanjutkan shalat tahajud di malam harinya tanpa ditutup dengan shalat witir. Rasulullah saw bersabda:

لَا وِتْرَانِ فِي لَيْلَةٍ

Tidak ada shalat dua witir dua kali dalam satu malam.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan An-Nasa’i).

Tetapi, bolehkah melakukan shalat setelah shalat witir? Boleh, dalilnya adalah hadits Aisyah r.a:

أنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يُصَلِّى  رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْوِتْرِ وَهُوَ جَالِسٌ

“Rasulullah saw pernah mengerjakan shalat dua rakaat setelah witir dalam keadaan beliau duduk.” (HR. Muslim).

Cara Kedua: Tetap mengikuti shalat Tarawih dengan imam di masjid sampai selesai berikut shalat witirnya. Namun setelah imam menyelesaikan shalatnya dengan salam, dia tidak ikut salam, tetapi berdiri lagi untuk menggenapkan rakaat agar tidak terhitung shalat witir. Kemudian dia melanjutkan shalat tahajud di malam harinya dan ditutup  dengan shalat witir. Dalam hal ini dia telah melaksanakan sabda Rasulullah saw:

اِجْعَلُوا آخِرَ صَلَاتِكُمْ بِاللَّيْلِ  وِتْرًا

“Jadikan akhir shalat malammu dengan melakukan shalat witir.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Cara Ketiga: Meninggalkan shalat jamaah ketika imam hendak melakukan shalat witir, kemudian melanjutkan shalat tahajud di malam harinya dan ditutup  dengan shalat witir. Namun orang yang melaksanakan cara yang ketiga ini telah kehilangan keutamaan shalat berjamaah bersama imam sampai selesai. Sebagaimana sabda Rasulullah saw:

مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لًهُ قِيَامُ لَيْلَة

“Barangsiapa yang shalat (Tarawih) bersama imam sampai selesai maka akan dihitung shalat malam secara penuh.” (Hadits Shahih, riwayat Abu Daud, Tirmidzi , Nasai, Ibnu Majah).

By: DR. Ahmad Zain An-Najah.